Rindu dan Sesak

Saya masih ingat sekali pertemuan pertama kami. Dan dia pun ingat. Dia ingat pada saat itu, saya salah mengira jika dia adalah orang lain. Pertemuan selanjutnya pun saya selalu ingat. Bahkan semua pertemuan, pembicaraan, yang didalamnya saya berlaku tidak sopan, kurang bersyukur dan sangat kurang berterima kasih, semua masih terekam jelas.

Orang itu, yang baiknya tidak bisa dideskripsikan. Yang baiknya, diketahui semua orang. Yang baiknya tersimpam di memori semua orang yang mengenalnya.

Saya tidak menangis saat dia pergi. Saya hanya menyesal. Waktu yang sudah saya atur untuk meminta maaf padanya, dan meminta pendapatnya seperti dahulu lagi…

tidak terlaksana.

Bukan karena terlalu sibuknya dia. Namun, ada keegoisan dalam diri saya yang menahan diri untuk membiarkan saja sampai dia sendiri yang ingat akan janji pertemuan tersebut.

Dan waktu itu tidak pernah datang.
dia terlanjur pergi

Untuk waktu yang tidak berujung.
Untuk selamanya.

Saya tidak menangis waktu itu.

Lalu, kenapa sekarang saya mesti menangis?

.
.
.
.

karena saya merindukan bapak,
Karena saya sedang butuh nasihat bapak,
Saya rindu bapak,
Saya sangat rindu.
.
.
.
.
Kami tidak terhubung dengan darah, namun ikatan itu… seperti sudah di setting oleh yang Maha Kuasa untuk saya bisa menyebut orang itu sebagai bapak kedua saya.

Bapak yang membantu saya meniti kembali jalan hidup saat saya sudah tidak punya semangat lagi disaat bapak kandung saya pergi.

Bapak yang membantu saya menata ulang masa depan dengan merubah sedikit demi sedikit  sisi buruk manusia yang ada pada saya.

Saya tidak menangis saat bapak pergi.
Tapi sekarang saya sedang menangis kencang.

Semua yang saya punya saat ini,
semua yang saya capai saat ini

Ada jejak bapak disana.
Ada senyum bapak disana.
Ada celotehan menyebalkan bapak disana.

Saya sangat rindu.
Dua minggu ini bapak selalu hadir di mimpi saya.
Selupa itu kah saya mendoakan bapak disana hingga bapak harus meluangkan waktu untuk hadir di mimpi saya.

Saya sangat rindu.
Saya sedang tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Saya tidak bisa menangis lepas didepan orang lain lagi selain bapak.

Saya sangat rindu sampai dada ini rasanya sesak.

Semoga kelak, saya bisa menyelesaikan dengan baik apa yang sudah bapak bantu untuk mulai.

sekali lagi, saya rindu bapak.

• 20 Desember 2013 (Bapak Rudi),
• 22 Desember 2014 (Nini),
• 12 Desember 2015 (Bapak Budi).

Semoga tidak ada yang pergi lagi. Semoga sisa kebahagian saya di Dunia ini tidak meninggalkan saya di luka yang sama yang belum sembuh dan tidak akan hilang ini.

Aamiin,

Vannia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s