Gallery

Rasa Syukur

Dulu,

Saya mudah sekali menangis ketika melihat hal apapun yang menyedihkan seperti tayangan orang tidak mampu di televisi, melihat pengemis di Jalanan, melihat pasangan renta yang tinggal di balik tumpukan seng dan kayu bekas, bahkan saya sering menangis melihat keadaan keluarga saya sendiri yang penuh keprihatinan.

Lalu,

Hati saya menjadi batu. Setelah terlalu banyak mata ini digunakan untuk menangis. Menangis karena kehilangan orang-orang yang saya sayang, menangis karena seringnya saya disakiti namun saya hanya bisa diam.

Sampai akhirnya,

Saya kehilangan simpati terhadap apapun. Saya menjalani hidup seperti manusia yang tidak pernah memiliki perasaan. Saya menjalani hari-hari saya dengan senyum palsu, tawa palsu dan raut wajah palsu yang kesemuanya disebabkan oleh matinya hati saya.

.

.

.

.

.

.

Awal tahun 2016, menjadi titik balik saya memutuskan tali perih yang mengekang saya dalam sebuah kesakitan yang bahkan sebenarnya sudah tidak mampu saya rasakan lagi selama tahun 2015.

.

.

Saya memulai kembali kehidupan saya dengan ‘mencoba’ menjadi manusia yang normal. Yang mampu menangis. Menangis karena rasa kasihan, rasa sedih, hingga menangis karena rindu dan bahagia.

Hingga akhirnya sekarang saya bisa tertawa, tersenyum, berbahagia kembali secara tulus dan seberfungsinya hati ini untuk merasa.

.

.

Tapi saya lupa,

 

Saat saya tertidur lelap, diluar sana banyak yang cemas tidur dengan mata terbuka dibawah jutaan bintang tanpa ada dinding yang melindungi disekitarnya.

Saya lupa saat saya sedang lahapnya menghabiskan makanan enak, diluaran sana banyak yang mati-matian berjuang agar tidak makan tanah dan menghabisi sesama manusia lainnya hanya untuk mengenyangkan isi perutnya untuk memenuhi nalurinya sebagai manusia.

Saat saya tertawa, diluar sana ratusan manusia lainnya sedang menangis, menjerit kesakitan dihatui rasa tidak aman karena tidak tahu harus berbuat apa dan harus memeluk siapa karena merasa telah sendiri dan tidak punya apa-apa.

Saya lupa.

Saya lupa kekuatan do’a yang begitu besarnya.

Saya lupa, saudara kita diluar sana butuh uluran tangan dari hati kita meski hanya berupa ucap yang dititipkan melalu Yang Maha Kuasa.

.

.

saya harus selalu menyelipkan syukur disegala aspek kehidupan saya melalui do’a untuk yang lain. Untuk kebaikan yang tidak akan putus antar sesama. Yang mana, saat materi tidak bisa tersampaikan dengan langsung, niat baik ini akan dijadikan bantuan senjata dan tebusan untuk setiap ingin yang mereka pinta.

 

 

“Tetap Bersyukur untuk apapun yang kamu punya, kamu kejar dan kamu alami sekarang ya, Van”

 

 

 

Insha Allah

-van