Gallery

Jawaban Sebuah Do’a; Melalui Rasa Sakit

saya pernah ada di titik yang saya rasa merupakan titik paling bawah dalam sebuah kehidupan yang saya pikir waktu itu, saya tidak akan bisa melewati itu semua. namun, saya bisa melewatinya dan itu yang membuat saya bisa menghadapi apapun masalah yang sedang saya alami.

beberapa hari ini, saya merasa Allah SWT menjawab semua do’a saya melalui rasa sakit. rasa sakit yang sejatinya akan membawa saya ke arah yang lebih baik. rasa sakit yang ternyata bisa saya lalui dengan sabar, ikhlas dan ternyata tidak butuh waktu lama untuk saya tersenyum kembali meskipun sakit bertubi-tubi baru saja saya rasakan (berkali-kali dalam waktu dekat).

sore ini, begitu banyak hal yang ada di pikiran saya yang memicu rasa sakit tersebut terasa kembali, begitu banyak pembicaraan dan pembahasan dari berbagai pihak yang membuat saya bertanya, “Mengapa semua hal yang saya lakukan selalu salah?”

saya selalu berusaha menyisipkan niat baik didalam apa-apa yang akan saya lakukan.

bahkan semua hal yang sudah saya korbankan, waktu, pikiran, tangisan, berujung pada prasangka buruk yang saya rasakan bahwa ini semua tidak adil.

mengapa saya selalu salah?

tapi, saya tau..

ini merupakan jawaban dari Do’a yang saya panjatkan di setiap pinta yang saya ucap kepada-NYA.

saya tau, seperti inilah jalannya.

karena meskipun sakit, saya bisa merasakan kemana arah dari semua perih ini akan berlabuh.

yaitu, ke pendewasaan dalam bersikap dan menjalani hidup, serta nilai tinggi yang akan saya dapatkan melalui sabar dan ikhlas yang Alhamdulillah bisa saya terapkan di beberapa sakit belakangan ini.

Insha Allah.

 

P.S:

“To Feel Pain is Good, It means You are still alive” unknown

ya, kamu masih Hidup, Vannia… Semangat! ^_^

 

 

-van

 

Advertisements
Gallery

Karena, Menikah itu…

 

love-holding-hands.jpg
 

pic source: google images

 

 

Menikah itu bukan perkara mempersatukan dua manusia dalam ikatan halal menurut Agama yang saya anut atau melagalkan hubungan pria dan wanita yang bisa tinggal serumah di Negara tempat saya tinggal ini.

 

 

Menikah itu perkara mempersatukan dua keluarga. Dua kehidupan yang belum tentu didalamnya bisa saling menjaga apa yang dipunya satu sama lain.

Keputusan menikah dini, menikah di usia 30an, di usia berapa pun, bahkan dengan siapa, ditentukan tidak Cuma berdasarkan hati kedua pasangan yang mengaku saling cinta dan ingin hidup bersama (secara legal). Kita butuh pemikiran panjang dan satu hal utama bagi saya yaitu, keyakinan.

Keyakinan untuk membagi waktu dalam kehidupan kita dengan pasangan nanti, keyakinan bahwa memang pilihan sudah tepat, keyakinan untuk menyisihkan hasil finansial untuk memenuhi kebutuhan berdua, dan keyakinan bahwa memang menikah adalah jalan yang dipilih oleh berbagai pasangan di Dunia dengan alasan yang berbeda-beda ini merupakan goals dari sebuah relationship.

.

.

.

.

 

Saya pernah tersiksa bertahun lamanya, untuk tidak berani meninggalkan sebuah hubungan yang disisipkan janji pernikahan, oleh seseorang yang bahkan tidak pernah mengunjungi Ibu saya. Seseorang yang sudah saya kubur dalam masa lalu dan saya anggap saya tidak pernah mengenalnya. Seharusnya mungkin tidak begitu, karena anggapan beberapa orang menjaga silahturahmi itu tetap lah penting.

Namun, percayalah…

Ada orang yang memang dengan kesalahan sebesar apapun tetap layak untuk dikenal dan ada orang yang dengan kita tidak menganggap kehadirannya pernah ada di hidup kita, membuat seluruh lapisan kehidupan menjadi jauh lebih baik”, Dan saya memilih opsi kedua.

.

.

Lalu, saya dipertemukan dengan seorang pria yang tidak butuh waktu lama, membuat saya ingin menikah dengannya, belajar untuk menjadi diri yang lebih baik, sesegra mungkin.

Ini bukan masalah waktu yang singkat, namun keyakinan ini benar-benar sudah tergaris sedemikian rupa di hidup kami, yang bahkan kedua keluarga kami dengan indahnya merestui hubungan ini.

Menikah itu bukan hanya masalah akad dan ijab Kabul. Pun, kesederhanaan yang semestinya diterapkan jika murni tujuannya memang menikah untuk Allah SWT, untuk menjaga satu sama lain antara dua manusia yang saling menyayangi dengan tulus, dan untuk hidup bersama secara legal tentunya.

Ada banyak pertimbangan panjang yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa pihak akan mencemooh keputusan kami namun pasti ada yang mendukung juga karena taraf dan kemampuan setiap pasangan itu berbeda-beda. Kemampuan untuk menyiapkan mental berumah tangga melalui prosesi pernikahan yang walaupun saya inginnya sederhana, ternyata tetap ada banyak factor yang harus disiapkan dengan matang dan baik, baik secara Agama maupun Peraturan Negara (yang wajib dipatuhi tentunya).

Dan dalam kasus saya ini pertimbangannya adalah, Kuliah.

Ya, kami berdua sama-sama masih menempuh pendidikan strata-1 yang tinggal menghitung beberapa puluh SKS saja untuk mencapai garis FINISH. Namun dengan berbagai pertimbangan ( yang sudah dipikirkan melalui debat panjang dan penuh cemas), kami harus membuat pilihan yang kami rasa tepat. Pilihan yang akan menentukan jalan hidup kami berdua. Pilihan yang akan memengaruhi masing-masing keluarga kami terutama ibu yang melahirkan kami. Pilihan yang Insha Allah terbaik dan memang seperti inilah jalannya, pilihan yang disertai kepercayaan akan nyatanya sebuah keajaiban Do’a.

Pilihan saya untuk seorang pria yang saya deskripsikan sebagai  ‘segalanya saya’.

 

Semoga semua dimudahkan, semoga setiap Aamiin ini menuntun kita kepada apa yang kita tuju.

Aku sayang banget sama kamu, Anggie Setyo Utomo.

 

IMG_20160809_094859

 

-Van-

Gallery

Caraku Memberi Reward Untuk Diri Sendiri

Jadi aku ini bukan tipikal orang yang itungan sebenernya, lebih ke royal malah. Ke temen, ke siapapun, aku ga pernah ngebiarin diri aku keterantungan secara finansial pada orang lain. Setiap makan bareng sama siapapun, kalo pas lagi lebih aku sering lebihin bayarnya, dan apalagi buat orang-orang yang disayang, udah ga mikir deh sama uang yang aku keluarin. Aku punya temen lelaki di kantor yang orangnya baik banget sering nraktir dll, tapi pas dia lagi ga bisa traktir ya aku yang traktir dia. Pun dengan pacar a.k.a calon suami yang sekarang, kalo kita ketemu dan makan di beberapa tempat seharian, itu ga pernah dia aja yang bayar gitu, pasti gantian. Karena aku ngerasa, aku ini kerja, punya penghasilan, dan emang ga kebiasa aja dari dulu untuk selalu ‘nerima’ kalo dibayarin apa gimana.

Secara finansial keluarga aku memang ga berada, tapi Alhamdulillah aku bisa beli semua kebutuhan aku sendiri, bisa bayar kuliah sendiri, bisa ngelakuin apa yang akum au, dan aku ngerasa ga ngebebanin siapun secara finansial bahkan ke keluarga aja udah bertahun-tahun  gapernah minta uang ke mereka.

Makanya, sering sedih, kalo ada yang bilang aku ini cewek matre, dan sejenisnya, Cuma karena mereka lihat aku sering makan atau pergi-pergian sama pacar atau dulu sama rekan laki-laki aku yang lain.

Aku sering ditraktir teman-temanku, tapi itu ga lantas membuat aku matre. Aku sering pergi ke tempat-tempat yang menghabiskan uang dengan sahabat-sahabatku, dan aku gapernah yang minta dibayarin apa gimana.

Aku adalah tipikal yang menerapkan,  ‘Uang bisa dicari lagi’ dan diri lo yang udah kerja sebulan ini layak untuk di beri ‘Reward’ dan kebetulan cara aku menghadiahi diri aku ya dengan yang ga terlalu pusing itungan sama diri sendiri selama itu beli / untuk hal yang emang aku mau dan terutama butuh. makanya mungkin ada yang melihat aku ini terlalu boros untuk ukuran aku yang berasal dari keluarga yang seadanya, jadi pada sotau nebak-nebak kalau aku ini matre ke orang-orang supaya aku bisa penuhin apa aja kebutuhan dan kemauan aku. tapi sekali lagi, aku sama sekali ngga kaya gitu!

Pagi ini pokonya sedihhhhhhhhhhhhhhhhhh….

 

Regards,

Dari Aku yang memang ga ngebebanin siapapun secara finansial

 

Menciptakan Saat Yang Tepat

Beberapa waktu belakangan saya merasa bahagia. Sangat bahagia. Setelah beberapa tahun, saya merasakan yang namanya “Mati Hati”, kehidupan yang tertekan, emosi yang mudah meledak dan kesedihan yang begitu seringnya terpaut di wajah saya. Ya, kesemua hal tersebut hilang semenjak saya mengenal seseorang yang merubah seluruh hidup saya saat itu juga bahkan- kedepannya nanti.

Perubahan yang begitu baik dan indah, dan disinilah saya merasakan untuk pertama kalinya bahwa… mencintai seseorang yang mencintai diri kita dengan kesamaan sayang dan restu dari kedua keluarga itu memang sangatlah indah.

Beberapa orang yang mengenal kami berdua banyak yang memberi tanggapan, jika hubungan ini terlalu cepat untuk dibawa ke jenjang yang lebih serius.

Lho? Bukankah jika sudah sama-sama serius lebih baik disegerakan? Bukan karena gegabah atau apa ya, karena kami berdua sudah sama-sama pernah menjalani hubungan lama sebelumnya dengan orang lain, namun tidak pernah ingin ke jenjang yang lebih serius.

ketika sekarang kami sama-sama ingin serius, dan itu dalam jangka waktu yang singkat, bukankah itu lebih baik? Dan saya selalu menjawab komentar orang-orang dengan:

“tidak ada yang terlalu cepat, yang ada hanya saat yang tepat. Dan jangan biarkan saat yang tepat tersebut ditentukan oleh waktu yang berjalan, kita sendiri yang harus menentukan saat yang tepat!”

– Van