Gallery

Keadaan Yang Lebih Baik

Lagi-lagi saya menulis disaat hati saya sedang tidak karuan. Hati saya sakit.  saya pun baru menyadari ada beberapa orang yang ternyata lebih sakit hatinya dari saya, pun baru saya sadari rasa sakit yang dirasakan oleh mereka itu ternyata disebabkan oleh saya.

Saya berusaha bersikap dewasa dengan menjadi pihak yang terlihat bijak, menjadi sabar dan bahkan saya  menunjukan bahwa saya ini sebenarnya kuat. Meskipun dalam hati ini, rasanya perih. Seperih-perihnya rasa yang bisa dirasakan oleh hati saya,– yang hanya seorang manusia biasa ini.

.

.

Semenit yang lalu, rekan kerja saya bertanya, mengapa akhir-akhir ini wajah saya murung dan terlihat sering melamun.

//

//

//

Bahkan saya tidak sadar jika semua perih yang sedang saya rasakan ini –yang saya kira sudah mampu saya tutupi dengan baik ternyata terpancar di wajah dan sikap saya yang dilihat oleh orang lain.

//

//

//

Saya merasa serba salah. Niat saya baik. Perasaan ini baik. Tapi kenapa saya terus dipojokkan dan susah sekali rasanya membuat keadaan menjadi normal seperti sedia kala.

Saya seperti tidak memiliki kesempatan untuk membuat semua keadaan ini menjadi normal dan seperti seharusnya.  Namun saya tetap berusaha untuk membuat kesempatan itu ada. Saya yakin, Allah SWT akan memberikan keadaan yang jauh lebih baik dari yang saya kira, meskipun tidak sekarang. mungkin esok, nanti atau mungkin justru keadaan yang jauh lebih baik itu sebenarnya keadaan yang saat ini sedang saya alami dan rasakan, yang saya rasa tidak baik, namun menurut Allah SWT ini baik.

Saya hanya menguatkan hati saya untuk tetap bisa kuat, kuat untuk tetap mempertahankan pikiran dan prasangka positif di hati saya ini.

.

.

.

Alhamdulillah, sudah merasa lebih baik di paragraph ini. Saya sudah bisa menghela nafas lega dan mengurai perih-perih ini menjadi senyum dan semangat.

 

Yay ! Vannia senyum !

Ah iya,

Tambahan untuk kamu yang mungkin membaca postingan ini nun jauh disana ^^

large

 

Salam,

 

Vannia

 

Advertisements

Rindu dan Sesak

Saya masih ingat sekali pertemuan pertama kami. Dan dia pun ingat. Dia ingat pada saat itu, saya salah mengira jika dia adalah orang lain. Pertemuan selanjutnya pun saya selalu ingat. Bahkan semua pertemuan, pembicaraan, yang didalamnya saya berlaku tidak sopan, kurang bersyukur dan sangat kurang berterima kasih, semua masih terekam jelas.

Orang itu, yang baiknya tidak bisa dideskripsikan. Yang baiknya, diketahui semua orang. Yang baiknya tersimpam di memori semua orang yang mengenalnya.

Saya tidak menangis saat dia pergi. Saya hanya menyesal. Waktu yang sudah saya atur untuk meminta maaf padanya, dan meminta pendapatnya seperti dahulu lagi…

tidak terlaksana.

Bukan karena terlalu sibuknya dia. Namun, ada keegoisan dalam diri saya yang menahan diri untuk membiarkan saja sampai dia sendiri yang ingat akan janji pertemuan tersebut.

Dan waktu itu tidak pernah datang.
dia terlanjur pergi

Untuk waktu yang tidak berujung.
Untuk selamanya.

Saya tidak menangis waktu itu.

Lalu, kenapa sekarang saya mesti menangis?

.
.
.
.

karena saya merindukan bapak,
Karena saya sedang butuh nasihat bapak,
Saya rindu bapak,
Saya sangat rindu.
.
.
.
.
Kami tidak terhubung dengan darah, namun ikatan itu… seperti sudah di setting oleh yang Maha Kuasa untuk saya bisa menyebut orang itu sebagai bapak kedua saya.

Bapak yang membantu saya meniti kembali jalan hidup saat saya sudah tidak punya semangat lagi disaat bapak kandung saya pergi.

Bapak yang membantu saya menata ulang masa depan dengan merubah sedikit demi sedikit  sisi buruk manusia yang ada pada saya.

Saya tidak menangis saat bapak pergi.
Tapi sekarang saya sedang menangis kencang.

Semua yang saya punya saat ini,
semua yang saya capai saat ini

Ada jejak bapak disana.
Ada senyum bapak disana.
Ada celotehan menyebalkan bapak disana.

Saya sangat rindu.
Dua minggu ini bapak selalu hadir di mimpi saya.
Selupa itu kah saya mendoakan bapak disana hingga bapak harus meluangkan waktu untuk hadir di mimpi saya.

Saya sangat rindu.
Saya sedang tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Saya tidak bisa menangis lepas didepan orang lain lagi selain bapak.

Saya sangat rindu sampai dada ini rasanya sesak.

Semoga kelak, saya bisa menyelesaikan dengan baik apa yang sudah bapak bantu untuk mulai.

sekali lagi, saya rindu bapak.

• 20 Desember 2013 (Bapak Rudi),
• 22 Desember 2014 (Nini),
• 12 Desember 2015 (Bapak Budi).

Semoga tidak ada yang pergi lagi. Semoga sisa kebahagian saya di Dunia ini tidak meninggalkan saya di luka yang sama yang belum sembuh dan tidak akan hilang ini.

Aamiin,

Vannia